Juni 7, 2009...10:08 pm

pengorek pasir itu,seorang pelajar

Lompat ke Komentar

Nga ganteng be ho (kau sudah ganteng) Desmon,” ucap seorang  warga yang berjalan melintasi jembatan saat melihat Desmon mulai memakai penutup kepala dari plastik tipis warna biru. Desmon hanya senyum saja mendengar gurauan ini . Kamis Sore (4/6) Desmon Hutagaol seusai makan, ia sudah siap-siap beraksi menjinjing pasir sungai  di  Desa Hutagaol Peatalun,Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir.

Cara menjinjing pasir  yang dilakukan pelajar kelas 2  SMK 1 Balige ini mengunakan bakul terbuat anyaman rotan .Plastik yang menutupi topi dan kepalanya berguna menepis rembesan air dari celah-celah bakul. Menjinjing pasir sungai ini dengan plastik di kepala, bertelanjang dada dan celana pendek dilakoninya saban hari setiap sore seusai sekolah untuk menopang biaya hidup keluarganya. Dingin? Pasti. Tapi ketekunannya dan tekadnya membantu mencari tambahan uang bagi keluarganya menjadi ‘pemanas’ badannya. Biasanya ia sendirian yang mengorek dan menjinjing pasir itu.

Sore itu , ibunya Boru Siahaan ikut  berperan mengorek pasir  dari dalam air sungai Aek Alian yang  dingin. Peralatan yang digunakan sederhana: sebuah piring kaleng bekas. Pasir yang dikorek dikumpul di bakul yang diletakkan di atas meja atau kuda-kuda papan. Dua bakul silih berganti di isi.

Sejak sebulan terakhir ini, musim kering di Balige sekitarnya membuat endapan  pasir  nyaris kosong di lokasi biasa ia mengeruk, dekat  jembatan sungai. Akibatnya Desmon  membuka lokasi baru ke arah hilir sekitar 15 meter dari tampatnya semula. Itupun menjadikan jarak  tempat mengumpul pasir hasil korekan jadi tambah jauh. Kehadiran Aku dan  Jarar Siahaan dari blogberita.net tidak menjadikan Desmon terganggu bekerja. Malah ia tambah semangat. Mukanya yang dikucuri tetesan air bercampur keringat dibiarkan disorot camvideo milik Jarar.

Aku jadi teringat pada akhir tahun 2008 lalu. Ketika kubeli 4 karung pasir hasil jinjingan Desmon untuk keperluan membata bak pompa air di rumah tinggalku yang memang berdekatan dengan sungai ini. “ Kasih aja 15.000 ribu , biar ada ongkos Desmon naik bus ke sekolahnya ” kata ibunya saat itu. Karena jawaban itu,aku  jadi tahu kalau Desmon yang baru berusia 17 tahun ini  ternyata masih sekolah . Belakangan aku tahu kalau 1 M Kubik harganya Rp.30.000.

Ia bercerita kepadaku kalau sekitar tiga tahun lalu keluarga mereka dulunya tinggal di Jakarta. Keluarga mereka pindah ke desa Hutagaol kampung halaman Bapaknya. Bapak dan ibunya bertani di desa ini.

O ya Desmon berkata  setiap sore bisa mendapat   2 meter Kubik . Nah, bisa saja pasir hasil keringat Desmon sudah ‘abadi’ dalam gedung bangunan rumah, toko atau proyek pemerintah di sekitar kota Balige  .(video Desmond dan ibunya bekerja kukutip dari blogberita.net)

& Komentar


Tinggalkan Balasan