Adalah sangat berbahagia bila sepasang pengantin baru -diberikan nasehat atau kiat berumah tangga. Tapi apa yang terjadi jika yang seharusnya nasehat itu adalah berupa ancaman. ” Kalo abang marahi,marah-marah sama kakak, awas main kita!” kata adik ipar pengantin pria .
Main maksudnya berkelahi atau bertarung satu lawan satu. O,o.
Sontak semua kerabat kedua mempelai dan undangan lainnya terkejut. Lalu tersenyum. Malah ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Maklum yang mengancam supaya kakaknya jangan dimarah-marahi abang iparnya adalah seorang anak laki-laki, sebut saja Ucok,berusia sekitar 12 Tahun. Pengantin wanita menjadi terharu sedangkan pria -yang kena ancam -malah memasang senyum tertahan. Mata mereka lalu berkaca-kaca.
Pada siang hari yang cerah, Kamis (31/7) , tetanggaku marga Sihite mempunyai hajatan pesta adat pernikahan anak mereka bernama Rizal yang mempersunting gadis Boru Simarmata ,asal Bagan Batu. Sejak awal, acara adat perkawinan Batak Toba di desa Parsuratan,Balige ini berlangsung biasa-biasa saja.
Kejadian menggelitik justru terjadi pada saat giliran pihak orang tua pengantin perempuan memberikan ulos, mandar hela dan nasehat kepada kedua mempelai yang berbahagia. Suasana mulai mengharu biru. Karena seperti jamaknya suku Batak Toba menikahkan putri tertuanya (boru panggoaran).” I ma da boru, …”kata Sang Bapak Simarmata. Ihiks,ihiks. (diiringi musik dan lagu Boru Panggoaran Ciptaan Tagor Tampubolon).
Nah sesudahnya, dikasi pula kesempatan si Ucok berkata-kata: ” Buat abang dan kakak, kakak disuruh bapak sama mamaknya kuliah, tapi kakak sudah langsung tamat alias kawin. Buat abang,kalo abang marahi,marah-marah sama kakak, awas main kita!” katanya. Gerrr. Semua senyum malah ada yang tertawa.
Tapi ia langsung memeluk kakaknya hingga sang kakak tak kuasa menahan air mata (dan lagi ) serta pelukan hangat juga diberi ke si abang ipar. Sungguh bahagia!
& Komentar
Agustus 2, 2008 pukul 6:34 pm
mantap nai nilai humanis ni cerita mi lae, terharu aku poang, sense penulis sangat kuat sebagai seorang jurnalis, meskipun tulisan ini sangat singkat namun sangat kuat dalam menampilkan sebuah nilai psikologi emosional, kepolosan dari si adek tadi, justru kekuatan besar, dalam unjuk nilai saling memiliki sebagai kakak. dan kita sendiripun pasti mengalami moment seperti itu, peace regard
Agustus 3, 2008 pukul 6:22 am
@lukman
mauliate,lae. ah gabe maila iba. Lae, juga pasti punya cerita mini spt ini. Ok.salam
Agustus 15, 2008 pukul 4:41 pm
Itulah sense humor halak hita Batak
salam kenal
par simarmar do au
Agustus 16, 2008 pukul 6:34 am
@alisyah
salam kenal juga. berarti kita tetangga desa ya.
Agustus 21, 2008 pukul 8:36 pm
Itulah ikatan bathin yang kuat na marhula-hula… Ucapan polos seorang bocah kecil tapi dalam maknanya. Walau masih kecil tapi dia sadar hakikatnya sebagai seorang anak lelaki yang melindungi keluarganya.
Aku jadi ingat adekku paling kecil Asido (sekarang 6 tahun). Waktu aku masih di Balige, setiap dia melihatku menangis dia akan membelai rambutku dengan tangannya yang kecil dan berkata, “Siapa bikin kakak nangis ? Supaya Ido pukul, kan adek hula-hula kakak… Tapi nanti kalau Ido sudah besar….”
Mendengar celotehnya, aku hanya bisa senyum. Dalam hatiku, amang jo tahe itohon… (Ah, tahe… gabe tarilu-ilu au masihol tu ito ki, nga 2 taon dang pajumpang hami.. Ibana do ngolu dohot gogohu)
November 7, 2008 pukul 4:07 pm
eh. tadinya aku susah ngerti. Membaca “main kita” itu harus sesuai logat batak baru ceritanya nyaho. susah bgt aku ngirim komentar. Semoga ini berhasil
November 7, 2008 pukul 4:19 pm
@debbycesilia
Horas Itoku. Itulah resikonya memilih kalimat langsung. Kalo maksudku sih begini ucapannya: awas asa hurribak annon. He,he . Salam dari Balige.