Ramona , putriku, akhirnya dapat bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 173458 Balige. Walaupun terlambat selama dua hari, Ramona tampaknya senang sekali. Saat memulainyapun sudah pukul 11.00 WIb, Rabu (16/7). Saat anak baru lainnya sudah bersiap pulang ke rumah.Keterlambatan ini karena maminya baru hari itu membeli seragam sekolah dan perlengkapan lainnya.
Kamis (17/7) kemarin, ia mengaku diberi “keistimewaan” oleh ibu gurunya. “Karena lebih cepat mengerjakan tugas pelajaran, maka aku duluan pulang sekolah,” katanya. Maklum tugas yang diberikan gurunya,sudah biasa ia kerjakan di bekas sekolahnya; Sekolah Taman Kanak-Kanak (STK) Dharmala Balige.
Memang murid baru SDN yang berjarak kurang lebih 200 M dari rumahku ini, banyak yang belum mengecap pendidikan STK. Sehingga guru kelasnya memulai pelajaran yang paling dasar sekali, mengenal huruf dan angka. Ramona sendiri, sudah bisa membaca dan menulis.
Di tempat lain, SD N 5 Balige , tempat temannya Ludya Pardede dan Gibran Siahaan bersekolah, metode yang dipakai gurunya, seperti penuturan beberapa orang tua murid, murid yang lulusan STK dan yang belum diberi cara pengajaran yang terpisah.
O, ya Ramona dapat bersekolah di SD ini karena aku menyulap umurnya. Umurnya kutambahkan 4 bulan.Aku nekad karena SD St.Francesco bekas sekolahku dulu menolak dengan tegas karena Ramona kurang umur empat bulan untuk pas 6 tahun. Umur 6 tahun adalah syarat masuk SD. Sehingga pas persyaratannya menjadi 6 tahun.
‘Kebijakan” ini mudah-mudahan berhasil, karena akhirnya aku memilih keyakinan akan kemampuan Ramona secara fisik dan mental sudah siap. Iapun sudah bisa berangkat sekolah tanpa diantar jemput.Bagaimana menurut anda?

& Komentar
Juli 18, 2008 pukul 7:56 am
Ha….ha, akhirnya si kecil itu masuk SD juga.
Saya yakin kemampuan fisik dan mentalnya pasti sudah siap, seperti bapaknya.
trims.
moramona says:
salam kenal dongansahuta. terima kasih atas sambutannya ke blog ini. Soal ramona yang “udah digedein” mudah-mudahan berhasil.
Juli 18, 2008 pukul 4:43 pm
bah nga mantap be i lae, tinggal mangalului uang sikkola nama hita berarti apalagi sudah 2 anak lae, kita berjuang terus tapi nggak mesti korupsi ate he.he
moramona says:
olo bah, Lae. tx
Juli 19, 2008 pukul 4:39 pm
hebat….
aq tahu mona pasti bisa tapi menurut pengalaman ku (seminggu bersekolah disana…dulu pasca trauma kecelakaan-tak mau sekolah di tkp yang notabene sd katolik…red.) agak sulit memang untuk menerima kenyataan kalo masih banyak teman yang ga bisa ngikutin kita…ups maksudnya …liat saja mona yang akhirnya dipercepat pulang karena lebih dulu selesai mengerjakan pr nya… dia akan bingung ato bisa saja jadi melambat dan menyesuaikan diri dengan kecepatan temannya (sayang kan…???)
tapi semoga guru nya bisa mengatasi nya dan tak sekedar memberi keistimewaan pulang saja… mungkin bisa dengan memberi tugas yang “lebih” tapi tanpa kesan lebih berat dari yang lain untuk mona…
mona cerdas sih…
ngggg… aq ikutan bangga sebagai bou nya… hehehe….
moramona says: He,he. my girl like auntie. Salam Manis dari Balige.O, ya Ramona dan Anna titip tx atas kue kirimannya.
Agustus 2, 2008 pukul 11:10 am
“anakkonhi do hamoraon di ahu,” ninna angka natua-tua.
tagogo massari. unang korupsi, songon dok ni ‘tobasahuta’.
horas…..
Agustus 3, 2008 pukul 6:35 am
@imrannapitupulu.
i ma tutu. apalagi kpk= Korupsi Pergi Kebui. btw. mauliate atas link-nya.